Survei Michelin, Pengendara Indonesia Abai Soal Pengecekan Tekanan Angin Ban

Survei Michelin, Pengendara Indonesia Abai Soal Pengecekan Tekanan Angin Ban

Survei Michelin, Pengendara Indonesia Abai Soal Pengecekan Tekanan Angin Ban

Ban mempunyai peran benar-benar mutlak di kendaraan gara-gara inilah anggota yang bersentuhan segera dengan permukaan jalan. Tapi ternyata, kebanyakan pengendara tak benar-benar menyimak kondisinya. Mayoritas pengendara abai dengan suasana ban terhitung soal tekanan angin. Demikian hasil survei yang dilakukan Michelin Indonesia terkait perilaku pengendara mobil di dalam memeriksa suasana tekanan angin dan juga rutinitas mengganti ban kendaraan.
Pasang Bola
Hasilnya survei lumayan mengejutkan. Menurut temuan Michelin, 64% dari pengendara mobil yang ikuti survei mengakui mengecek tekanan angin terhadap ban setidaknya tiap tiap satu bulan sekali. Sedangkan 15% pengendara lainnya lakukan pengecekan angin sehabis lebih dari jangka satu bulan. Selebihnya, sebanyak 21% pengendara yang disurvei menyatakan cuma mengecek tekanan angin sesekali sekiranya ban menjadi kempes, menjadi tidak nyaman, atau selagi akan lakukan perjalanan jauh.

Presiden Direktur Michelin Indonesia Steven Vette menjelaskan memeriksa tekanan angin adalah perihal yang mesti dilakukan secara rutin. Hal ini untuk menegaskan keamanan selama berkendara. Kurang mengisi angin atau mengisi secara berlebihan, sanggup memicu ban aus lebih cepat, mengurangi kekuatan cengkeram, dan menjadikan lebih boros bahan bakar.

“Jangka selagi ideal untuk memeriksa tekanan angin terhadap ban adalah dua minggu sekali. Atau selambat-lambatnya satu bulan sekali, tetapi jangan sampa lebih dari satu bulan tidak mengecek tekanan angin terhadap ban,” kata Steven lewat siaran pers.

Informasi berkenaan perilaku berkendara ini diperoleh lewat survei yang diselenggarakan sebagai anggota dari kampanye Michelin Safe Mobility 2020 terhadap Desember lalu. Survei dilakukan bersamaan dengan aktivitas sarana cek ban gratis di toko atau bengkel rekanan Michelin yaitu Lautan Ban, Permaisuri Ban, dan 1 Station by B-Quik. Lebih dari 250 pengendara mobil berpartisipasi di dalam sarana cek ban dan survei perilaku berkendara.

Lebih dari 77% pengendara yang ikuti survei jelas nilai tekanan angin yang pas untuk kendaraan mereka yaitu terhadap rentang 28-33 psi (pound per inci persegi). Nilai tekanan angin ideal ini sanggup diamati terhadap panduan kendaraan yang kebanyakan terdapat di sisi kanan pintu kemudi. Namun, sebetulnya banyak dari ban kendaraan yang diperiksa mempunyai tekanan angin yang tidak cocok dengan nilai yang disarankan.

“Secara umum pengendara mempunyai ilmu yang baik berkenaan tekanan angin yang ideal, tetapi tetap jarang memeriksa tekanan angin secara rutin. Karena itulah Michelin konsisten mengadakan aktivitas ini untuk konsisten mengedukasi pengendara supaya menegaskan suasana keamanan ban yang digunakan, ” kata Steven.

Customer Engineering Support Michelin Indonesia Mochammad Fachrul Rozi menyarankan pengendara untuk menyempatkan selagi lebih dari satu menit tiap tiap bulan untuk menegaskan suasana ban. “Meskipun tidak tersedia kerusaan yang muncul di permukaan, ban sanggup kehilangan tekanan udara hingga 1 psi tiap tiap bulan. Hal ini sanggup dipercepat oleh kebocoran udara gara-gara kebocoran yang tidak disengaja, kebocoran terhadap katup atau tutup katup, atau rusaknya roda,” lanjut Fachrul Rozi.

Waktu yang Ideal Mengganti Ban
Selain mengecek tekanan angin secara berkala, yang terhitung mesti untuk diperiksa oleh pengendara secara berkala adalah kedalaman tapak atau kembangan ban. Hal ini mutlak untuk jelas selagi yang pas untuk mengganti ban. Menurut temuan survei Michelin Indonesia menyatakan bahwa 75% pengendara mengganti ban kendaraan mereka sekiranya mereka sudah memandang terdapatnya keausan terhadap ban atau selagi ban sudah mengalami kerusakan. Rata-rata pengendara yang disurvei menyatakan mengganti ban dilakukan tiap tiap 2-4 th. sekali. Sebagian besar pengendara terhitung menyatakan puas dengan performa ban kendaraan yang dipakai.

Fachrul Rozi menjelaskan umur manfaatkan dan jarak tempuh sebuah ban tergantung dari kombinasi lebih dari satu segi layaknya desain, rutinitas berkendara, cuaca, suasana jalan dan perawatan yang dilakukan terhadap ban tersebut. Karena itulah pengendara dianjurkan memeriksa kedalaman tapak/kembangan ban secara berkala. “Tidak banyak pengendara yang jelas bahwa batas kedalaman tapak ban yang aman adalah 1.6 milimeter. Jika tidak cukup dari ini maka sudah waktunya mengganti ban,” ujarnya.

Khusus untuk ban merk Michelin, Rozi menjelaskan, sehabis pemanfaatan selama lima tahun, ban mesti diperiksa secara menyeluruh minimal tiap tiap th. sekali oleh teknisi yang berpengalaman. Setelah melalui jaman 10 th. sehabis tanggal produksi, maka ban sebaiknya diganti biarpun anggota luar ban tidak menyatakan tanda-tanda kerusakan. Hal yang mirip terhitung berlaku untuk ban cadangan.

Kunjungi Juga : Kabar dan Berita Otomotif dan Mesin

“Berbekal knowledge dari survei yang dilakukan, Michelin Indonesia bertekad untuk selamanya mendampingi pengendara di dalam menegaskan kelayakan ban kendaraan. Bagi para pengguna ban Michelin, pengguna sanggup datang ke dealer atau Technic Service Station yang tersebar di beraneka tempat di Indonesia, ahli ban Michelin siap melayani pengendara,” kata Rozi.

Author: publisher

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *